Produksi Bersih dengan Biopori

Saat ini hampir tidak ada proses produksi pertanian tanpa penggunaan pupuk kimia khususnya yang mengandung unsur  hara Nitrogen, Phospor , dan Kalium. Beberapa daerah malah penggunaannya sudah berlebih. Di sisi lain, penambahan secara khusus unsur-unsur mikro seperti S, Ca, Mg serta unsur mikro Zn dan Cu. sangat jarang bahkan tidak pernah dilakukan oleh petani, padahal untuk mendukung produksi tanaman yang efisien dan lestari diperlukan keseimbangan ketersediaan hara makro maupun mikro di dalam tanah. Mirip dengan pupuk, penggunaan pestisida juga mengalami peningkatan yang signifikan selama program BIMAS digulirkan diawal pemerintahan orde baru.

Selain dampak positif  pembangunan pertanian juga mengakibatkan pencemaran lingkungan oleh bahan agrokimia (pupuk dan pestisida). Oleh sebab itu   identifikasi dan pemantauan, serta inovasi teknologi mitigasi dan penanggulangan masalah lingkungan pertanian sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable Agriculture development).

Terkait dengan ketiga isu utama lingkungan di sektor pertanian, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menetapkan beberapa kebijakan, yang dibedakan atas dua pilihan utama. Pertama, kebijakan dalam pembangunan atau pengembangan pertanian. Kedua, kebijakan yang bersifat regulasi, pengawasan, dan pengendalian melalui peraturan dan perundang-undangan.

Brown dan Hock (1999)  mengemukakan bahwa selain produktivitas, setidaknya ada enam komponen yang menjadi tolok ukur dari pembangunan pertanian berkelanjutan, yaitu: 1) kepunahan spesies, 2) kerusakan hutan, 3) erosi tanah, 4) emisi karbon, 5) jumlah ikan yang ditangkap, dan 6) laju kelahiran manusia dibanding laju kematian. Oleh karena itu, keenam tolok ukur tersebut juga dijadikan acuan pengelolaan lingkungan terutama dalam konteks pengelolaan pembangunan yang bersih (clean development management), seperti isu keragaman hayati (biodiversity), ecolabellng dan penebangan hutan, mitigasi gas rumah kaca, dan polusi.

Pembangunan pertanian ke depan memerlukan reorientasi pendekatan, terutama dalam pengembangan sistem produksi  pada umumnya. Beberapa komponen  pendekatan revolusi Hijau masih cukup relevan,  namun ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki dan disempurnakan, seperti: 1) penggunaan teknologi tinggi berbasis sumber daya (knowledge and resources approach), 2) penggunaan input yang rasional melalui pengembangan sistem pertanian modern (Good Agricultural Practices, GAP), 3) pemanfaatan teknologi sumber daya domestik, teknologi (indigenous technology), dan kearifan lokal (local wisdom), dan 4) perhatian yang lebih serius terhadap aspek kesehatan, lingkungan, serta potensi dan kelestarian sumber daya pedesaan. Keempat pendekatan tersebut  dikemas dalam konsep Revolusi Hijau Lestari (RHL) atau Evergreen Revolution. Meningkatnya perhatian dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, lingkungan, dan gizi telah mendorong peningkatan permintaan terhadap produk pertanian organik, terutama pangan. Di berbagai negara maju, produk pangan organik sudah menjadi agribisnis yang berkembang pesat.

Pada tahun 1989/1990 United Nations Enviroment Program (UNEP) memperkenalkan konsep Produksi Bersih yang didefenisikan sebagai  Strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup produk dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan.

Elemen Utama Produksi Bersih adalah analisis Daur Hidup (Product Life Cycle Assessment) Menurut defenisi dari Society for Enviromental Toxicology and Chemistry (SETAC),  PLCA adalah Evaluasi beban lingkungan berkaitan dengan produk, proses atau aktivitas melalui identifikasi dan perkiraan energi dan material yang digunakan dan dilepaskan ke lingkungan. Penilaian juga termasuk semua daur hidup (life cycle) dari produk, proses atau aktivitas, meliputi ekstraksi dan proses raw material (bahan baku); manufaktur transportasi dan distribusi; penggunaan atau penggunaan ulang pemeliharaan recycling; dan pembuangan ke lingkungan (front cradle to grave).

PLCA merupakan instrumen yang rasional dan komprehensif untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi dampak suatu proses dan atau produk dan sekaligus menyiapkan alternatif pemecahannya melalui seluruh daur-hidupnya sehingga produk atau proses yang bersangkutan menjadi ramah lingkungan. Penilaian yang sistematik bagi kebutuhan dan peluang untuk menyusutkan beban pada lingkungan yang berkaitan dengan penggunaan energi dan bahan serta pengeluaran limbah selama daur hidup suatu produk, proses atau kegiatan.

Komponen Utama lain dari produksi besih adalah minimasi limbah yaitu upaya untuk mencegah dan atau mengurangi timbulnya limbah, dimulai sejak pemilihan bahan, teknologi proses, penggunaan materi dan energi dan pemanfaatan produk sampingan pada suatu sistem produksi. Minimisasi limbah dapat dilakukan dengan cara reduce, reuse, recycle, recovery.

Reduce adalah upaya untuk mengurangi pemakaian/penggunaan bahan baku seefisien mungkin di dalam suatu proses produksi. Juga meperhatikan agar limbah yang terbuang menjadi sedikit. Reuse adalah upaya penggunaan limbah untuk digunakan kembali tanpa mengalami proses pengolahan atau perubahan bentuk. Reuse dapat dilakukan di dalam atau di luar daerah proses produksi yang bersangkutan. Recycle  adalah upaya pemanfaatan limbah dengan cara proses daur ulang melalui pengolahan fisik atau kimia, baik untuk menghasilkan produk yang sama maupun produk yang berlainan. Daur ulang dapat dilakukan di dalam atau di luar daerah proses produksi yang bersangkutan.  Recovery adalah Upaya pemanfaatan limbah dengan jalan memproses untuk memperoleh kembali materi/energi yang terkandung di dalamnya.

Pembangunan pertanian ke depan memerlukan reorientasi pendekatan, terutama dalam pengembangan sistem produksi   dengan pendekatan produksi bersih.  Salah satu konsep yang dapat memenuhi komponen utama produksi bersih adalah biopori yang dapat dikemas dalam sebuah konsep besar Biopory for Evergreen Revolution (Biopori untuk revolusi hijau yang lestari).

Lubang resapan biopori (LRB) dikembangkan untuk memperbaiki kondisi ekosistem tanah yang dapat menghidupi keanekaragaman hayati di dalam tanah (biodiversitas tanah).  Biodiversitas tanah dapat hidup dan berkembang biak di dalam tanah bila terdapat cukup air, oksigen, dan makanan sebagai sumber energi dan nutrisi untuk hidup dan pertumbuhannya. Karena mereka umumnya heterotroph maka makanannya adalah bahan organik yang dihasilkan oleh autotroph dan organisme tanah yang telah mati. Sampah organik merupakan sumber bahan organik untuk makanan biodiversitas tanah. Dengan konsep biopori maka jerami dan dedaunan sisa panen dapat dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan kesuburan tanah, selain menjadikan produksi bersih juga memimimalisir limbah produksi pertanian.

 

Perihal Krisdinar
Praktisi pendidikan dan pengguna alternatif curahan ekpresi dan informasi

One Response to Produksi Bersih dengan Biopori

  1. eafrianto mengatakan:

    Mohon informasi, apakah penerapan biopori cukup efektif dilakukan di lahan berpasir. Mungkin ada saran untuk meningkatkan kesuburan tanah di lahan berpasir. Terima kasih. Seandainya memungkinkan, jawaban juga dikirimkan melalui email : edd_afrianto@yahoo.com.

Jangan lupa berkomentar, sebagai penyemangat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: