Kawasan Pertanian Punclut Terancam

Kawasan punclut bagi saya nggak pernah terlupakan karena memberikan kenangan tersendiri ketika menjelajahi kawasan ini pada saat orientasi studi (OPSPEK) mahasiswa baru.  Punclut adalah sebuah sebutan untuk menamai sebuah bukit dan lembah  yang berada di kelurahan Ciumbuleuit, Kec. Cidadap, Kota Bandung. Punclut merupakan kawasan yang mempunyai bentang alam dengan topografi berbukit sampai bergunung, kelerengan rata-rata > 40%, berada pada ketinggian 850 – 1.000 m dpl. Punclut termasuk pada Kawasan Bandung Utara yang pemanfaatan ruangnya harus dikendalikan.

Kawasan ini sejak dulu dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar punclut untuk bertani tanaman semusim,  Oleh sebab itu walaupun tidak rindang kawasan ini selalu dihiasi oleh maraknya tanaman pertanian.  Orang yang melihat dan melintasinya akan  merasakan  nuansa pertanian dan pedesaan walaupun kawasan ini termasuk pada wilayah Kota Bandung.

Istilah Punclut diperkirakan singkatan dari Puncak Ciumbuleuit karena letaknya di ujung Jalan Ciumbuleuit yang menanjak mulai dari pertigaan Jl Cihampelas dan Jl Babakan Siliwangi Bandung.. Kawasan punclut ini membentang dari ujung Jalan Ciumbeulit sampai ujung Jalan Dago (Jl. Juanda).   Kawasan ini memang sangat strategis sebagai kawasan hijau penuh pepohonan rindang bahkan menurut para ahli lingkungan seharusnya digunakan sebagai kawasan hutan, karena di dasar lembah puncut terbentang Sungai Cikapundung yang mengalir membelah Kota Bandung. Namun sepanjang yang kita ketahui kehendak untuk menjadikan punclut hutan tak pernah terjadi karena dari dulu sampai sekarang kondisinya tetap saja gundul dan gersang

Kawasan  ini semakin populer setelah banyak orang “ngngeuh” atas potensi alamnya yang dapat dijadikan tempat untuk melihat kota Bandung dari kejauhan.  Selanjutnya semakin populer ketika media massa memberitakan kontroversial atas pembangunan punclut oleh para pengembang untuk dijadikan kawasan Hotel dan perumahan mewah.  DiIbalik kepopulerannya,  punclut telah dan sedang mengalami  dinamika status tanah dan pemanfaatan ruangnya, bahkan banyak pihak menyebutkan sebagai misteri.

Status lahan di Kawasan Punclut sebelum tahun 1961 adalah Tanah Negara eks-hak Erfpacht atau bekas lahan perkebunan teh pada jaman penjajahan Belanda.  Pada tahun 1961 Kepala Inspeksi Agraria Jabar mengalihkan tanah eks erfpacht tersebut menjadi hak milik kepada lebih dari 900 orang. Namun demikian, pemegang hak milik tersebut dengan berbagai pertimbangannya membiarkan masyarakat sekitar kawasan itu memanfaatkannya sebagai lahan garapan pertanian.

Pada tahun 1997 Menteri Agraria memutuskan untuk membatalkan/memcabut hak milik tanah tersebut menjadi milik negara kembali dengan alasan orang yang mempunyai hak atas tanah tersebut tidak memanfaatkannya untuk membuat rumah. Selanjutnya dinyatakan pula dalam keputusannya bahwa tanah/lahan tersebut akan dimanfaatkan oleh salah satu pengembang/developer untuk membangun Kawasan Wisata Terpadu. Keputusun menteri ini kemudian didukung oleh Walikota Bandung pada tahun 2000 dengan mengeluarkan ijin lokasi yang kedua kalinya kepada developer tersebut atas rencananya membangunan kawasan wsata terpadu di kawasan punclut.

Berbagai kebijakan yang dikeluarkan itulah punclut ini menjadi “membara” dan “misteri” karena kebijakan/keputusan Menteri Agraria dan walikota tersebut bertentangan dengan kebijakan lain yang juga dkeluarkan oleh Walikota  yang  mengarahkan kawasan punclut sebagai kawasan konservasi. Di era keterbukaan dan reformasi seperti sekarang ini, tentu saja banyak orang ingin mengungkap “misteri” ini.

Lahan Punclut saat ini, dikuasai haknya oleh lima pengembang/developer dan makelar tanah. Sedangkan masyarakat punclut hanya meminjam sementara sebelum diusir oleh pemiliknya haknya. Pengembang ini rencananya akan membangun hotel, perumahan, pusat olahraga, dan gedung pertunjukan bertaraf internasional.  Seiring dengan banyaknya  pelanggaran pemanfaatan ruang  yang memicu “konflik” dan “misteri”  maka pada tahun 2005 Gubernur Jawa Barat, memberikan arahan penanganan kawasan punclut yang dtujukan kepada Walikota Bandung. Pokok arahan Gubernur tersebut antara lain adalah menghentikan untuk sementara aktifitas pembangunan fisik yang dilakukan  pengembang/developer.

Saat ini Pemkot Bandung sedang merevisi Rencana Tata Ruang Wilayahnya.  Namun dalam draft  revisi RTRW  tersebut  merubah Kawasan Punclut yang tadinya kawasan Lindung menjadi kawasan yang dapat dibangun secara terbatas. Tentu saja perubahan RTRW ini akan memberikan peluang kepada developer untuk melanjutkan rencana pembangunan perumahan mewah dan hotel bertaraf internasional di kawasan punclut.

Perihal Krisdinar
Praktisi pendidikan dan pengguna alternatif curahan ekpresi dan informasi

3 Responses to Kawasan Pertanian Punclut Terancam

  1. Destinasia Magz mengatakan:

    Rasanya tak kurang imbauan hingga peringatan menjadikan Punclut sebagai area resapan bagi Kota Bandung. Anehnya, tak kurang pula yang berlomba-lomba menjadikannya sebagai area perumahan atau area pembangunan yang tak berwawasan lingkungan. Kurang apa ya para pembuat keputusan di negeri ini? Kayaknya, kurang kerjaan! – Ya, kurang kerjaan pada pro lingkungan hidup.

  2. Rohana Abdullah mengatakan:

    sebuah kawasan yang diperebutkan oleh banyak pihak.. yang banyak mengalami penderitaan masyarakat yang mendiami kawasan hilir.. apakah ini demi peningkatan PAD atau keserakahan sekelompok orang? wallahu ‘alam yang tau hanyalah hati nurani masing2 dan Allah yang Maha ‘alim 9Maha mengetahui)

    @ Rohana Abdullah
    Terkadang untuk kepentingan sesaat mengorbankan lingkungan ya bu ?

  3. Agung Rangga mengatakan:

    wah, lingkungannya terlihat sejuk sekali…😀

    Reply :
    Ya…kelihatannya memang sejuk, sekarang sedang terancam oleh rencana pembangunan perumahan.
    terimakasih kunjungan

Jangan lupa berkomentar, sebagai penyemangat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: