Serangan Ulat Bulu Mulai Mengkhawatirkan

Ulat yang dianggap mahluk menjijikan sekaligus menyeramkan sebenarnya adalah salah satu fase (tahapan) metamorfosis dari mahluk  “indah” yang namanya kupu-kupu. Ulat bulu yang menyerang di sejumlah daerah diduga berasal dari jenis Arctornis sp. dan Lymantria marginalis (di Jawa Timur), Cyana veronata (Yogyakarta), dan Daychera indusa (Kendal, Jawa Tengah).  Genus Lymantria dan Arctornis merupakan sekumpulan hewan ngengat (moth) anggota famili Lymantriidae.  Sedang Cyana veronata merupakan anggota famili Arctiidae yang juga biasa disebut sebagai ngengat. Hewan ini sejenis dengan kupu-kupu  dari Ordo Lepidoptera, namun umumnya beraktifitas di malam hari (nokturnal).  Salah satu siklus hidup hewan ini adalah menjadi ulat bulu.

Ngengat atau kupu-kupu sebelumnya telah mengalami metamorfosis  yang siklus hidupnya terdiri atas telur (egg)—> ulat bulu  (larva)—> kepompong (pupa atau chrysalis)—> hingga menjadi ngengat/kupu-kupu dewasa (imago) yang dapat terbang.  Jumlah spesies ngengat dan kupu-kupu diperkirakan mencapai ribuan spesies. Di Indonesia saja diperkirakan ada sekitar 600-an spesies.

Sebagaimana diberitakan media massa, serangan ulat bulu ini bermula dari Probolinggo Jawa Timur pada 28 Maret 2011 lalu. Dalam waktu yang relatif singkat, ulat bulu merebak tidak hanya di Jawa Timur, akan tetapi meluas hingga ke Semarang,  Banjarmasin,  Buleleng, Garut, Majalengka, Sumedang, Bekasi dan beberapa kabupaten dan kotalainnya di Jawa Barat.   Bahkan  telah menyerang  pula ke Ibu Kota, Jakarta.  Belum diketahui secara pasti faktor penyebab terjadinya serangan ulat bulu yang semakin meluas tersebut.

Banyak opini yang menyoroti fenomena ini,  mulai dari sudut pandang  kerusakan lingkungan, agama,  senjata biologis, strategi pemasaran perusahaan insektisida, politik, bahkan ada yang menganggap sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian pro dan kontra pembangunan gedung DPR RI.  Berbagai opini tersebut syah-syah saja sepanjang belum ditemukan faktor penyebab yang pasti.

Namun apapun penyebabnya  serangan ulat bulu  mengakibatkan  tanaman yang diserang kondisinya kritis mengenaskan. Walau tidak tidak menimbulkan kematian, seluruh daun rontok dimakan ulat yang dapat mengganggu proses  fotosintesis.  Fotosintesis  adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan  dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta  energi cahaya matahari.  Selain pada tanaman,  ulat bulu juga menyerang rumah tinggal penduduk, sehingga pemilik rumah merasakan akibat yang cukup mengkhawatirkan karena terasa gatal ketika tersentuh bulu ulat tersebut.

Menurut pandangan pakar dan pemerintah, salah satu sebab munculnya ulat bulu ini yaitu untuk mencari media metamorfosis menjadi kempompong sebagai bagian dari upaya mempertahankan kehidupannya.  Guru Besar Ilmu Hama Tanaman Institut Pertanian Bogor, Profesor Aunu Rauf, mengatakan bahwa ulat itu bukan spesies baru namun sebelumnya tak pernah menimbulkan kerusakan berat pada tanaman mangga.  Ulat bulu yang menyerang ribuan pohon mangga arumanis di Probolinggo berasal dari spesies Arctornis submarginata, anggota famili Lymantriidae.

Dalam buku “Hama-hama pada Tanaman Mangga di  Hindia Belanda” (sekarang Indonesia) yang ditulis oleh peneliti Belanda bernama CJH Franssen pada tahun 1941, Arctornis submarginata sama sekali tak disebut, artinya  spesies ini  memang tak pernah dikenal sebagai hama tanaman mangga. Padahal buku tersebut telah dijadikan acuan bagi penelitian hama tanaman mangga.

Secara teori  ledakan populasi ulat bisa disebabkan oleh berkurangnya populasi musuh alami (predator) serangga ini seperti burung dan kepik.  Musim hujan yang berkepanjangan sepanjang tahun lalu membuat perkembangbiakan predator menjadi terhambat. Penurunan populasi predator menyebabkan ulat bulu bisa berkembang biak dengan pesat.  Selain itu, terputusnya mata rantai yang menyebabkan predator ulat bulu berkurang  adalah kemungkinan terjadi migrasi populasi ulat bulu sebagai imbas dari aktivitas Gunung Bromo.  Perubahan faktor  kondisi lingkungan dan penurunan jumlah predator seperti semut rangrang dan burung,  merupakan penyebab meledaknya populasi ulat bulu.  Tren permintaan beranekaragam  konsumsi manusia saat ini seperti memakan tokek, ular, burung, katak dan binatang lainnya turut menyumbang berkurangnya predator (pemakan) hama termasuk ulat bulu.

Menurut informasi ulat bulu yang berkembang di Probolinggo memiliki ukuran dan umur yang sama.  Hal ini mengindikasikan ulat bulu berasal dari telur yang diletakkan secara bersamaan di tanaman mangga.  Artinya terjadi migrasi ngengat secara besar-besaran. Di tempat baru, predator sudah berkurang sehingga populasi ulat bulu meningkat karena tidak punya musuh.  Hama ulat bulu  yang menyerang saat ini bersifat spesialis karena hanya menyerang tanaman mangga.

Namun  migrasi dari Gunung Bromo tak sepenuhnya bisa dibuktikan,  karena beberapa tempat sasaran serangan ulat bulu seperti di beberapa kabupaten di Jawa Barat relatif  jauh dari Gunung Bromo.    Selain itu,  ternyata spesies ulatnya  berbeda dan tanaman yang diserang  bukan hanya mangga.    Jika spesies ulat bulu daerah lain berbeda dengan spesies yang menyerang Probolinggo maka migrasi besar-besar ulat bulu dari Probolinggo menjadi terbantahkan.

Kemungkinan lain adalah adanya   ledakan hama sekunder (ulat bulu)  yang disebabkan oleh penggunaan insektisida berspektrum luas yang mematikan  ulat bulu  tetapi juga mematikan predator dan parasitoid ulat bulu.   Penelaahan ini sebenarnya bisa dimulai dari pola penggunaan insektisida  di masing-masing daerah penyerangan ulat bulu.  Jika benar mengarah pada pola penggunaan dan jenis insektisida tertentu sudah berlebihan dan tidak bijaksana maka harus segera dihentikan peredarannya.  Hal ini penting dilakukan untuk mencegah semakin musnahnya predator dan parasitoid ulat bulu tersebut.  Dalam dunia hama penyakit tanaman  peningkatan populasi hama sebagai akibat  penggunaan insektisida berspektrum luas dan berlebihan disebut resurgensi.

Resurgensi adalah peningkatan populasi serangga yang terjadi setelah aplikasi insektisida, populasi hama yang mula-mula rendah kemudian meningkat dengan cepat melebihi tingkat populasi sebelum aplikasi insektisida. Penyebab utama terjadinya resurgensi adalah terbunuhnya musuh alami serangga hama tersebut pada waktu aplikasi insektisida.  Musuh alami umumnya lebih rentan terhadap insektisida dibandingkan serangga hama utama. Apabila populasi hama tersebut meningkat lagi pada generasi berikutnya atau datang dari tempat lain maka tidak ada lagi musuh alaminya yang mengendalikan populasi hama tersebut.  Munculnya hama sekunder pada ekosistem pertanian karena insektisida  yang ditujukan untuk mengendalikan hama utama, akan membunuh pula musuh alami hama utama dan musuh alam hama sekunder. Dalam kondisi demkian komposisi hama pada beberapa generasi berikutnya mungkin akan berubah. hama sekunder akan menjadi hama utama dan hama utama menjadi hama sekunder.

Siklus hidup ulat bulu Arctornis submarginata yang menyerang Probolinggo berlangsung sekitar 4-5 minggu. Seekor ngengat betina bisa menghasilkan telur hingga 300 butir. Perlu diwaspadai ketika Arctornis submarginata masuk pada  fase ngengat dan akan memasuki fase kepompong.  Pada fase ini  masyarakat harus  waspada akan terjadinya migrasi ngengat karena serangga ini akan mencari tempat tinggal baru yang bisa menyediakan nutrisi. Karena penyebabnya adalah berkurangnya musuh alami (predator) maka ulat bulu yang meyerang beberapa daerah belum tentu dari spesies yang sama.  Oleh sebab itu  serangan serangan ulat bulu di daerah lain belum tentu  berasal dari migrasi ulat bulu Probolinggo.

Ada banyak cara untuk mencegah ledakan populasi ulat bulu menyerang kembali berbagai daerah di Indonesia.   Upaya pengendalian serangga  atau ngengat bisa dilakukan dengan menyemprotkan pembasmi hama, untuk mencegah terjadinya pertumbuhan ngengat dalam jumlah besar pada fase kehidupan selanjutnya.  Selain itu upaya  mengembangbiakkan predator dan parasitoid juga bisa mencegah ledakan populasi ulat bulu pada siklus kehidupan selanjutnya.

Masyarakat dapat membantu perkembangan parasitoid ulat bulu ini. Caranya, dengan mengumpulkan ulat bulu ke dalam botol plastik air mineral yang berisi daun dan menutupnya dengan kain kasa. Selama beberapa hari ulat bulu akan berubah menjadi kepompong. Jika kepompong berubah menjadi ngengat maka serangga tersebut harus dimusnahkan. Namun jika kepompong mengeluarkan sejenis lebah kecil maka serangga tersebut harus dilepaskan karena berfungsi sebagai parasitoid bagi ulat bulu.

Berbeda dengan kupu-kupu yang hidup aktif pada siang hari, ngengat merupakan binatang nocturnal  yang aktif pada malam hari. Karenanya, pembasmian ngengat dilakukan dengan membuat perangkap menggunakaan cahaya lampu atau petromaks pada malam hari. Lampu atau petromaks digantungkan di atas nampan plastik berisi air sabun. Ngengat yang tertarik pada lampu akan jatuh ke air sabun dan akhirnya mati.

Pemberantasan menggunakan insektisida juga bisa dilakukan. insektisida yang digunakan sebaiknya mengandung bahan aktif  bakteri Bacillus thuringiensis yang aman terhadap lingkungan karena hanya mematikan ulat namun tidak mempengaruhi musuh alaminya (berspektrum sempit). Penyemprotan dilakukan terhadap daun saat ulat masih berukuran kecil. Insektisida yang disemprotkan akan menempel pada daun dan akan termakan oleh ulat.   Bakteri yang tertelan akan mengeluarkan racun dalam saluran pencernaan ulat sehingga menyebabkan kematian pada ulat.  Ledakan populasi ulat bulu tak akan berulang asalkan pengendalian hama terus dilakukan sambil menunggu musuh alami hama berkembang lebih banyak. Oleh sebab itu pengembangbiakan musuh alami (predator dan parasitoid) perlu juga dilakukan. Selain itu penggunaan insektisida secara bijaksana harus terus disosialisaikan kepada masyarakat agar ledakan hama karena resurgensi seperti  yang terjadi pada ulat bulu ini tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang.  Bagaimanpun serangan ulat bulu yang ekstrim tersebut menggugah kita semua agar jauh lebih memperhatikan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang disandarkan pada pola penggunaan pengendalian Hama secara alami dan bijaksana.

Tentu saja berkurangnya musuh alami yang  mengakibatkan resurgensi yang saya uraikan tersebut disandarkan pada teori dengan berbagai asumsi kondisi perubahan lingkungan ekstrim dan pola penggunaan insektisida berspektrum tinggi yang berlebihan.  Namun apabila asumsi tersebut tidak terjadi,  kita harus lebih khawatir karena ada sesuatu yang membuat populasi ulat ini meledak yang jauh lebih sulit untuk diprediksi.  Bisa jadi ada pihak-pihak tertentu demi kepentingannya dengan sengaja menyebarkan ulat bulu sebagai senjata biologis atau demi kepentingan dan keuntungan ekonomi semata.

 

Perihal Krisdinar
Praktisi pendidikan dan pengguna alternatif curahan ekpresi dan informasi

2 Responses to Serangan Ulat Bulu Mulai Mengkhawatirkan

  1. granger mengatakan:

    hhhmmm….boleh ngobrol lebih ga??? ada fb or apa aja gt….

    aq tertarik sama invasi ulat di probolinggo ini bwt dijadiin proposal penelitian aq,,

    thx yaaw..

    Dari Krisdinar :

    @ Granger : Terimakasih mau berbagi pengalaman : fb : email krisdinar@gmail.com atau Aom Krisdinar-Dindin

  2. bun6a mengatakan:

    Sungguh suatu yg aneh trjd disana semga ga ada yg trkn serangan ulat bulu it
    oy keblogku ea

    Untuk Bung6a’s :
    Aneh tapi nyata…fenomena alam memang seringkali mengejutkan
    terimakasih kunjungannya

Jangan lupa berkomentar, sebagai penyemangat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: