Diskusi Kebangkitan Dunia Pertanian Bersama Mentan

Produksi beberapa komiditi pertanian Indonesia cukup tingggi. Produksi padi Indonesia nomor tiga dunia setelah China dan India. Produksi jagung Indonesia terbesar di Asia. Pada tahun 2006, produksi kelapa sawit nomor satu dunia. Sedangkan produksi karet Indonesia nomor dua dunia. “Produksi pertanian Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Namun bila dibandingkan jumlah penduduk dan dibagi per kapita produksi tersebut seringkali belum mencukupi kebutuhan dalam negeri,” ujar Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr.Anton Apriyantono dalam Talkshow Kebangkitan Baru Dunia Pertanian sebagai Motor Penggerak Pembangunan Indonesia, Senin (6/7) di Auditorium Thoyyib Hadiwijaya Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga. Acara ini diselenggarakan Kementrian Kebijakan Pertanian Badan Eksekutif Mahasiswa  Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) IPB.

Oleh karena itu, kebijakan impor untuk beberapa komoditi pertanian masih ditetapkan. Kata Mentan, hampir tidak ada negara yang menghilangkan kebijakan impor komoditi pertaniannya. Brazil, negara yang produksi pertaniannya terbesar pun masih menetapkan impor pada beberapa komiditi.

Anton mengharapkan  perguruan tinggi lebih berperan dalam pembangunan pertanian. “Kami mengharapkan lulusan sarjana pertanian, inovatif, kreatif dan diminati dunia kerja. Melakukan riset yang menghasilkan teknologi untuk kemajuan untuk masyarakat, memberikan masukan penyusunan grand desain atau road map pertanian nasional. Menggalakkan program pendampingan petani di lapang,” papar Mentan.

Menanggapi Mentan, Wakil Dekan Fakultas Pertanian IPB Dr. Aris Munandar   menyampaikan IPB sedang menggalakkan program go field agar mehasiswa memahami permasalahan pertanian di lapang. ” Sebagai contoh IPB menjadikan sawah petani sebagai  laboratorium hama tanaman terpadu. Jadi sejak dulu IPB telah mendukung kebijakan pemerintah,” kata Dr.Aris.

Dekan Fakultas  Teknologi Pertanian IPB, Dr.Sam Herodian mengkoreksi kebijakan pertanian yang kurang memfokuskan pada perbaikan infrastruktur dan teknologi. “Seorang investor enggan menginvestasikan modalnya ke Indonesia, karena infrastruktur pertaniannya kurang mendukung. Misalnya, irigasi dan jalan menuju lahan pertanian sempit, sehingga kendaraan sulit lewat.”

Staf Ahli Mentan, Lukman M Baga mengatakan dulu Belanda menjajah Indonesia karena potensi pertaniannya seperti pala, lada, karet, vanila, kopi, dan tebu. “Mereka dulu menjajah bukan karena kekayaan tambang seperti minyak dan gasnya,” tandas Lukman M Baga. Potensi sumber daya alam khususnya pertanian ini merupakan tantangan bersama untuk mengelolanya.

Acara yang dibuka Rektor IPB, Prof.Dr.Herry Suhardiyanto ini juga menghadirkan pembahas lain yakni: Wakil Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB, Dr. Titik Sumarti dan Presiden BEM IPB Suranto Wahyu Widodo.  (Sumber: Institut Pertanian Bogor)

Perihal Krisdinar
Praktisi pendidikan dan pengguna alternatif curahan ekpresi dan informasi

Jangan lupa berkomentar, sebagai penyemangat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: