Peradaban VS peradaban untuk menyelamatkan bumi

Hari BumiHari bumi telah jatuh pada tanggal 22 April yang lalu dan disambut dengan penuh kekhawatriran mengingat fenomena alam yang justru mengarah pada situasi yang mengkhawatirkan terhadap keselamatan bumi. Kita hargai berbagai upaya pemerintah atas kehendak untuk menyelamatkan bumi walaupun masih dalam tahapan kehendak politis, begitu pula salut kepada lembaga teknis (dinas terkait dengan lingkungan hidup/SKPD) atas berbagai usulan program penyelamatan lingkungan, walaupun belum tentu disetujui oleh bupati dan DPRD karena pertimbangan mepetnya APBD terutama di kabupaten miskin. Kita perlu acungkan jempol kepada Lembaga Swadaya Masyarakat yang dengan gigih menyuarakan aspirasi dan desakan perlunya proses penyelematan lingkungan hidup, walaupun diantaranya ada juga malah dalam kesehariannya justru mempercepat kerusakan lingkungan (dirumahnya nggak punya tong sampah atau demo dengan menggunakan mobil ngebul dan mulek ! he..he…)

Kita semua maklum, banyak faktor penyebab rusaknya lingkungan, antara lain buangan industri berupa gas beracun Sulfur Dioksida (SO2) yang kemudian dioksidasi oleh udara bumi (O2)menjadi Sulfur Trioksida SO3. Selanjutnya, seperti yang kita ketahui apabila gas ini mengembara kemana-mana dan bereaksi dengan uap air (H2O) diatas sana, maka akan bereaksi menjadi asam sulfit (H2SO3) dan asam sulfat (H2SO4). Tentu saja bisa kita bayangkan hasil reaksi kimia berbahaya ini apabila turun ke bumi dalam bentuk hujan.

Tentunya ancaman terhadap kelestarian lingkungan bukan hanya disebabkan oleh buangan industri. Bisa jadi kitapun punya peranan berarti terhadap percepatan kerusakan lingkungan, karena tiap hari kita menggunakan kendaraan bermotor yang menghasilkan gas karbon monoksida (CO), Gas ini akan dihasilkan lebih banyak apabila kendaraan yang kita tumpangi nggak pernah dirawat, jadilah ngebul dan mulek !. Apabila CO ini terhirup oleh kita (manusia dan juga binatang) maka akan mengikat oksigen (O2) dalam darah sehingga kita (dan binatang) akan kesulitan bernapas. Pokoknya dampak industri dan kendaraan selalu digambarkan mempunyai akibat yang mengerikan bagi kehidupan mahkluk hidup di dunia! Duuus, dunia perlu diselamatkan dari mara bahaya akibat industridan kendaraan bermotor, peun !

Atas dasar pemikiran itulah kemudian keluar berbagai kebijakan atau pengaturan tentang pendirian industri, diantaranya hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Variable/aspek yang dianalisis pasti banyak mulai dari aspek teknis, social, ekonomi, sampai ke lingkungan hidup, komplit..plit plit plit pliiiit. Meminimalisir bahaya yang disebabkan kendaraan, aturannya lebih banyak lagi, mulai dari upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi (aturan 3 in 1 di jalan utama Jakarta) sampai dengan upaya mengurangi ruang gerak mobil/kendaraan yang umurnya lebih dari lima tahun atau karantina mobil kuno dengan pembentukan klub-klub kendaraan lawas yang dinjakkan ke jalan raya setahun sekali, itupun dengan cara pawai dan berjejer layaknya karnaval saja.

Lantas bagaimana realitanya ? Saya melihat semua kebijakan, program dinas teknis, dan teriakan LSM dalam upaya penyelamatan bumi dengan cara upaya penghentian laju pertumbuhan industri dan kendaraan cenderung kurang efektif jika tidak mau disebut sia-sia !. Pendirian industri terus berlanjut sejalan dengan promosi/undangan investasi yang dilakukan pemerintah pusat dan Pemda di masing-masing propinsi/kabupaten. Simak saja misalnya Kabupaten Karawang Jawa Barat, yang tadinya berpredikat lumbung padi Jawa Barat sekarang beralih dan mengalihkan diri sebagai kota Industri sebagai tujuan pembangunannya. Begitu juga jumlah kendaraan diseluruh kota di Indonesia menunjukkan jumlah yang semakin meningkat sejalan dengan perkembangan fasilitas kredit kendaraan bermotor yang semakin marak di Indonesia. Ironisnya peningkatan jumlah pengguna kendaraan bermotor tersebut dinyatakan sebagai sebuah prestasi bagi produsen kendaraan dan perusahaan penyedia jasa kredit dan leasing, bahkan beberapa departemen dan pemda dengan bangga menyatakan bahwa perkembangan industri dan kendaraan bermotor merupakan prestasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Penyelamatan bumi dari mara bahaya gas CO memang penting, tapi juga harus jujur kalau kita enggan untuk meninggalkan kebiasaan memanfaatkan hasil peradaban manusia walau hanya sehari apalagi seminggu. Lagi pula tidak logis penyelamatan bumi dengan dipatok tanpa kendaraan bermotor selama sehari atau seminggu untuk sekedar mengurangi gas emisi CO. Apa kata dunia !! kalau kita hidup tanpa listrik hanya karena kita takut CO yang dihasilkan pembangkit listrik. Apa jadinya kalau rakyat nganggur karena pabriknya ditutup hanya karena takut gas CO. Pasti dampaknya jauh lebih mengerikan karena nggak mampu beli beras beserta lauk pauknya yang mengakibatkan busung lapar dan gizi buruk.

Pembangunan adalah pilihan yang sudah kita putuskan. Konsekuensi dari pilihan pasti bukan pilihan karena suka atau tidak taraf peradaban manusia hingga saat ini baru bisa menciptakan industri dan kendaraan yang masih menghasilkan Sulfur dioksida (SO2) dan karbon monoksida (CO). Di sisi lain, tentunya kita tidak ingin disebut sebagai orang yang mengingkari peradaban manusia dengan memberantas industri dan kendaraan dan kembali ke jaman abad pertengahan (renaissance) atau jaman batu, hanya karena takut konsekuensi logis dari sebuah pilihan revolusi industri.

Saya sangat setuju adanya gerakan dan pergerakan penyelamatan bumi dari berbagai ancaman gas berbahaya, tapi tentunya konsep penyelamatan yang selaras dengan fitrah manusia yang selalu mempunyai gerakan peradaban (teknologi) dan memanfaatkan setiap gerakan peradaban (teknologi). Artinya tidak perlu dengan cara menghindari konsekuensinya tapi menghadapinya dengan produk peradaban lain yang mengeliminir dampak negatif dari peradaban/teknologi yang dihasilkan.

gambar dapet dari newry.files.wordpress.comSalah satu upaya menghadapi gas CO dan CO2 yang dihasilkan kendaraan menurur pak Otto Sumarwoto (alm) adalah dengan memperbanyak vegetasi/tanaman di bumi ini sehingga dapat mengikat gas CO2 untuk kemudian tanaman menghasilkan O2 yang dibutuhkan manusia dan hewan. Untuk kepentingan itu kita hargai kehendak pemerintah agar setiap kota mempunyai hutan kota minimal 20 % dari wilayah administratifnya. Begitu pula Pemkot Bandung telah mengeluarkan Perda yang mewajibkan warganya untuk menanam minimal satu pohon di halaman rumah masing-masing. Masih banyak kebijakan-kebijakan lain yang semestinya mendorong ahli tanaman, perkebunan, kehutanan dan lansekap untuk menciptakan beradaban baru yang dapat mengeleminir dampak negatif dari peradaban pembangunan berbasis teknologi. Bagi ahli pertanian, perkebunan dan kehutanan tentunya harus mampu menerima tantangan dari teknologi industri dan kendaraan dengan menciptakan kultivar yang mampu tumbuh cepat sejalan dengan percepatan teknologi. Begitu pula ahli arsitektur lansekap harus mampu pula mendesain lingkungan agar CO yang dihasilkan industri dan kendaraan dapat direduksi oleh tanaman/pepohonan yang ditempatkan sedemikian rupa sesuai desain lansekapnya. Menerima tantangan sebuah peradaban dengan penciptaan peradaban lain yang saling bersinergis jauh lebih baik ketimbang antar peradaban (bisa dibaca: para ahli/ilmuwan) saling menyalahkan yang tentunya sangat kontra produktif.

Bagi yang jujur dan setia memanfaatkan hasil peradaban manusia berbasis teknologi mesin (lihat ketika pagi yang antri bis kota dan angkot) seharusnya mampu mengantisipasi gas beracun yang dihasilkan oleh teknologi yang kita gunakan sehari-hari dengan cara memanfaatkan peradaban tandingan berbasis budidaya tanaman, prakteknya menanam dan memelihara pohon dirumah masing-masing atau di lingkungan perumahannya. Hal itu lebih baik ketimbang kita menghindari hasil peradaban manusia dengan cara jalan kaki ketempat kerja atau sekolah yang jaraknya cukup jauh atau hidup tanpa listrik dan komputer, apalagi berusaha untuk memusnahkan pabrik/industri dan kendaraan bermotor. Hasil peradaban industri, energi dan kendaraan sudah dan sedang kita nikmati, sehingga sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Terus terang kita enggan untuk melepasnya….. yang harus kita lakukan adalah memanfaatkan lagi peradaban manusia lain di bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan dan arsitektur lansekap.

Sudahkah kita menanam pohon di depan rumah ?

Perihal Krisdinar
Praktisi pendidikan dan pengguna alternatif curahan ekpresi dan informasi

Jangan lupa berkomentar, sebagai penyemangat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: